Bicara MyKhilafah

Politics Islam
 
IndeksIndeks  FAQFAQ  PencarianPencarian  PendaftaranPendaftaran  AnggotaAnggota  GroupGroup  Login  

Share | 
 

 Allah Melaknat Penguasa Zalim

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
Tengku joe



Jumlah posting : 69
Registration date : 21.11.06

PostSubyek: Allah Melaknat Penguasa Zalim   Sun Jul 01, 2007 11:05 pm

ALLAH MELAKNAT PENGUASA ZALIM



اللَّهُمَّ مَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ فَاشْقُقْ عَلَيْهِ وَمَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَرَفَقَ بِهِمْ فَارْفُقْ بِهِ



Ya Allah, siapa saja yang memegang urusan ummatku dan menyulitkan mereka, maka balaslah dengan perlakuan yang sama. Siapa saja yang memegang urusan umatku dan bersikap lembut kepada mereka, maka balaslah dengan perlakuan yang sama. (Hadis Riwayat Muslim dan Ahmad).



Sanad Hadis







Imam Muslim meriwayatkan hadis di atas berturut-turut dari: Harun bin Said al-Ayli, dari Wahab, dari Harmalah, dari Abdurrahman bin Syimasah yang berkata:



Aku pernah datang kepada Aisyah untuk bertanya kepadanya tentang sesuatu. Ia berkata, “Engkau siapa?” Aku menjawab, “Seorang laki-laki dari penduduk Mesir.” Ia berkata, “Bagaimana keadaan pemimpin kalian di peperangan kalian ini?”
“Kami tidak membencinya. Sungguh, jika seekor unta milik seseorang dari kami mati, ia memberinya seekor unta. Jika seorang hamba kami meninggal, ia memberinya seorang hamba. Jika seseorang dari kami memerlukan nafkah, ia memberinya nafkah.” Aisyah lalu berkata, “Tidak akan menghalangiku apa yang telah ia lakukan terhadap Muhammad bin Abi Bakar, saudaraku, untuk aku sampaikan apa yang pernah aku dengar dari Rasulullah saw. di rumahku ini. Beliau pernah berdoa…” (Beliau membaca doa di atas, red.).



Imam Muslim juga menuturkan hadis ini dari jalur Muhammad bin Hatim, Jarir bin Hazim, dari Harmalah al-Mishri, dari Abdurrahman bin Syimasah, dari Aisyah dan dari Nabi Shallallahu ’Alaihi Wa Sallam.



Imam Ahmad meriwayatkannya dari tiga jalur:



Pertama: dari Harun bin Ma‘ruf, dari Ibn Wahb, dari Harmalah, dari Abdurrahman bin Syimasah, dari Aisyah dan dari Nabi Shallallahu ’Alaihi Wa Sallam.



Kedua: dari Abdurrahman, dari Jarir bin Hazim, dari Harmalah al-Mishri, dari Abdurrahman bin Syimasah, dari Aisyah dan dari Nabi Shallallahu ’Alaihi Wa Sallam.



Ketiga: dari Wahb bin Jarir, dari Jarir dari Harmalah al-Mishri, dari Abdurrahman bin Syimasah al-Mahri, dari Aisyah dan dari Nabi Shallallahu ’Alaihi Wa Sallam.



Makna Hadis



Man waliya min amri ummatÓ (siapa saja yang menangani urusan umatku). Ini merangkumi siapa saja yang menangani urusan kaum Muslimin, baik penguasa mahupun pegawai negara.



Fasaqqa ‘alayihim (lalu ia memberatkan/menyulitkan mereka). Saqqa ‘alayhim maknanya memasukkan kesulitan atau kemudharatan terhadap mereka, yakni menjerumuskan mereka ke dalam kesulitan atau menimpakan kesulitan terhadap mereka, baik dengan perkataan atau perbuatan. Ini merangkumi semua hal yang boleh memberatkan, menyulitkan, atau menimpakan kemudharatan terhadap rakyat. Bentuknya boleh membebani rakyat dengan bebanan yang berat, mengabaikan urusan rakyat, tidak memenuhi keperluan mereka, membuat aturan berbelit-belit yang menyulitkan, menunda-nunda pelayanan, tidak menghalangi bahaya yang akan menimpa rakyat, atau menyerahkan kekayaan milik rakyat kepada swasta apalagi pihak asing. Semua itu akan menyulitkan dan memberatkan rakyat, bahkan menjerumuskan mereka ke dalam bahaya.



Fasyquq ‘alayh (maka timpakanlah kesulitan terhadapnya). Ini merupakan doa Rasul Shallallahu ’Alaihi Wa Sallam. agar Alllah menimpakan kesulitan sebagai balasan setimpal atas perbuatan penguasa dan pegawai yang memberatkan atau menyulitkan masyarakat.



Farafaqa bihim (lalu bersikap lembut kepada mereka), yakni memperlakukan mereka dengan kelembutan, ihs‚dan, kasih sayang, keramahan dan kebaikan. Ungkapan ini datang sebagai lawan dari sikap memberatkan. Maknanya adalah memperhatikan dan mengurus segala urusan rakyat, memenuhi keperluan mereka, melakukan hal-hal yang disukai Allah untuk mereka dan membuat rakyat semakin baik, sejahtera dan maju. Semua itu dilakukan dengan disertai kelembutan, kasih sayang, kebaikan, keramahan dan kemudahan; juga merangkumi segenap upaya untuk mencegah dan menghilangkan kemudharatan dari rakyat secepat mungkin.



Farfuq bihi (maka berlaku lembutlah kepadanya) iaitu perbuat kepadanya dengan kelembutan sebagai balasan semisal dengan apa yang ia perbuat kepada umat.



Ash-Shan’ani al-Amir di dalam Subul as-Salam mengatakan, hadis ini merupakan dalil bahawa wali (orang yang menangani urusan umat) wajib mempermudah berbagai urusan rakyat, bersikap lembut kepada mereka, memperlakukan mereka dengan lapang dada, penuh pemaafan dan ampunan, lebih mengutamakan keringanan atas ‘azÓmah agar kesulitan tidak merasuki mereka, dan melakukan hal-hal yang disukai Allah terhadap mereka.



Imam an-Nawawi dalam Syarh ShahÓh Muslim, ketika menjelasakan hadis ini, mengatakan, doa Rasul Shallallahu ’Alaihi Wa Sallam ini merupakan larangan yang paling hebat atas penimpaan kesulitan kepada rakyat. Doa ini sekaligus merupakan dorongan yang paling besar untuk bersikap lembut kepada mereka. Banyak hadis yang menyatakan hal serupa.



An-Nawawi di dalam Al-Adzk‚r mengatakan bahawa zahir hadis ini menunjukkan kebolehan berdoa atas suatu kezaliman, iaitu mendoakan penguasa zalim atas kezalimannya agar Allah menimpakan balasan yang serupa/setimpal kepadanya. Adapun al-Ghazali mengisyaratkan dan menjadikannya dalam makna laknat. Maksudnya boleh melaknat atau memohon agar ditimpakan laknat terhadap penguasa yang berlaku zalim, memberatkan dan menyulitkan rakyat. Bahkan penguasa itu memang layak mendapat laknat Allah. ‘Iyasy bin Abbas berkata, Nabi Shallallahu ’Alaihi Wa Sallam pernah bersabda:



مَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِيْ شَيْئًا فَرَفَقَ بِهِمْ فَرَفَقَ اللهُ بِهِ وَمَنْ وَلِيَ مِنْهُمْ شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ فَعَلَيْهِ بَهْلَةُ اللهِ قَالُوْا يَا رَسُوْلَ اللهِ وَمَا بَهْلَةُ اللهِ قَالَ لَعْنَةُ اللهِ



‘Siapa saja yang memegang urusan umatku dan bersikap lembut kepada mereka, maka Allah akan bersikap lembut kepadanya. Siapa saja yang memegang urusan mereka dan memberatkan/menyulitkan mereka, maka baginya bahlah Allah.” Para Sahabat bertanya, “Apakah bahlah Allah itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Laknat Allah.” (Hadis Riwayat Abu ‘Awanah).



Wall‚h a‘lam bi ash-shaw‚b. (Yahya Abdurrahman)
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
 
Allah Melaknat Penguasa Zalim
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
Bicara MyKhilafah :: Siasah dan Khilafah-
Navigasi: